Sabtu, 20 November 2010

Batara Semar


Dalam Al-Kisah pewayangan pastinya kita mengetahui adanya SEMAR. Batara Semar atau Batara Ismaya, hidup di alam Sunyaruri, sering turun ke dunia dan manitis di dalam diri Janggan Semarasanta, seorang abdi dari Pertapaan Saptaarga. Mengingat bahwa bersatunya antara Batara Ismaya dan Janggan Semarasanta yang kemudian populer dengan nama Semar merupakan penyelenggaraan Illahi, maka munculnya tokoh Semar diterjemahkan sebagai kehadiran Sang Illahi dalam kehidupan nyata dengan cara yang tersamar, penuh misteri.

Dari bentuknya saja, tokoh ini tidak mudah diterka. Wajahnya adalah wajah laki-laki. Namun badannya serba bulat, payudara montok, seperti layaknya wanita. Rambut putih dan kerut wajahnya menunjukan bahwa ia telah berusia lanjut, namun rambutnya dipotong kuncung seperti anak-anak. Bibirnya berkulum senyum, namun mata selalu mengeluarkan air mata (ndrejes). Ia menggunakan kain sarung bermotif kawung, memakai sabuk tampar, seperti layaknya pakaian yang digunakan oleh kebanyakan abdi. Namun bukankah ia adalah Batara Ismaya atau Batara Semar, seorang Dewa anak Sang Hyang Wisesa, pencipta alam semesta.

Dengan penggambaran bentuk yang demikian, dimaksudkan bahwa Semar selain sosok yang sarat misteri, ia juga merupakan simbol kesempurnaan hidup. Di dalam Semar tersimpan karakter wanita, karakter laki-laki, karakter anak-anak, karakter orang dewasa atau orang tua, ekspresi gembira dan ekspresi sedih bercampur menjadi satu. Kesempurnaan tokoh Semar semakin lengkap, ditambah dengan jimat Mustika Manik Astagina pemberian Sang Hyang Wasesa, yang disimpan di kuncungnya. Jimat tersebut mempunyai delapan daya yaitu; terhindar dari lapar, ngantuk, asmara, sedih, capek, sakit, panas dan dingin. Delapan macam kasiat Mustika Manik Astagina tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa, walaupun Semar hidup di alam kodrat, ia berada di atas kodrat. Ia adalah simbol misteri kehidupan, dan sekaligus kehidupan itu sendiri.

Jika dipahami bahwa hidup merupakan anugerah dari Sang Maha Hidup, maka Semar merupakan anugerah Sang Maha Hidup yang hidup dalam kehidupan nyata. Tokoh yang diikuti Semar adalah gambaran riil, bahwa sang tokoh tersebut senantiasa menjaga, mencintai dan menghidupi hidup itu sendiri, hidup yang berasal dari Sang Maha Hidup. Jika hidup itu dijaga, dipelihara dan dicintai maka hipup tersebut akan berkembang mencapai puncak dan menyatu kepada Sang Sumber Hidup, manunggaling kawula lan Gusti. Pada upaya bersatunya antara kawula dan Gusti inilah, Semar menjadi penting. Karena berdasarkan makna yang disimbolkan dan terkandung dalam tokoh Semar, maka hanya melalui Semar, bersama Semar dan di dalam Semar, orang akan mampu mengembangkan hidupnya hingga mencapai kesempurnaan dan menyatu dengan Tuhannya.

Selain sebagai simbol sebuah proses kehidupan yang akhirnya dapat membawa kehidupan seseorang kembali dan bersatu kepada Sang Sumber Hidup, Semar menjadi tanda sebuah rahmat Illahi (wahyu) kepada titahnya, Ini disimbolkan dengan kepanjangan nama dari Semar, yaitu Badranaya. Badra artinya Rembulan, atau keberuntungan yang baik sekali. Sedangkan Naya adalah perilaku kebijaksanaan. Semar Badranaya mengandung makna, di dalam perilaku kebijaksanaan, tersimpan sebuah keberuntungan yang baik sekali, bagai orang kejatuhan rembulan atau mendapatkan wahyu.

Dalam lakon wayang, yang bercerita tentang Wahyu, tokoh Semar Badranaya menjadi rebutan para raja, karena dapat dipastikan, bahwa dengan memiliki Semar Badranaya maka wahyu akan berada dipihaknya.

Menjadi menarik bahwa ada dua sudut pandang yang berbeda, ketika para satria raja maupun pendeta memperebutkan Semar Badranaya dalam usahanya mendapatkan wahyu. Sudut pandang pertama, mendudukkan Semar Badranaya sebagai sarana phisik untuk sebuah target. Mereka meyakini bahwa dengan memboyong Semar, wahyu akan mengikutnya sehingga dengan sendirinya sang wahyu didapatkan. Sudut pandang ini kebanyakan dilakukan oleh kelompok Kurawa atau tokoh-tokoh dari sabrang, atau juga tokoh lain yang hanya menginkan jalan pintas, mencari enaknya sendiri. Yang penting mendapatkan wahyu, tanpa harus menjalani laku yang rumit dan berat.

Sudut pandang ke dua adalah mereka yang mendudukan Semar Badranaya sebagai sarana batin untuk sebuah proses. Konsekwensinya bahwa mereka mau membuka hati agar Semar Badranaya masuk, tinggal dan menyertai kehidupannya, sehingga dapat berproses bersama meraih Wahyu. Penganut pandangan ini adalah kelompok dari keturunan Saptaarga. Dari ke dua sudut pandang itulah dibangun konflik, dalam usahanya memperebutkan turunnya wahyu. Dan tentu saja berakhir dengan kemenangan kelompok Saptaarga.

Mengapa wahyu selalu jatuh kepada keturunan Saptaarga? Karena keturunan Saptaarga selalu mengajarkan perilaku kebijaksannan, semenjak Resi Manumanasa hingga sampai Harjuna. Di kalangan Saptaarga ada warisan tradisi sepiritual yang kuat dan konsisten dalam hidupnya. Tradisi tersebut antara lain; sikap rendah hati, suka menolong sesama, tidak serakah, melakukan tapa, mengurangi makan dan tidur dan laku lainnya. Karena tradisi-tradisi itulah, maka keturunan Saptaarga kuat diemong oleh Semar Badranaya.

Masuknya Semar Badranaya dalam setiap kehidupan, menggambarkan masuknya Sang Penyelenggara Illahi di dalam hidup itu sendiri. Maka sudah sepantasnya, anugerah Ilahi yang berujud wahyu akan bersemayam di dalamnya. Karena apa yang tersembunyi di balik tokoh Semar adalah Wahyu. Wahyu yang disembunyikan bagi orang tamak dan dibuka bagi orang yang hatinya merunduk dan melakukan perilaku kebijaksanaan. Seperti yang dilakukan keturunan Saptaarga.

Semoga menjadi tambahan wawasan untuk kita semua agar kita lebih mengenal pengetahuan tentang pewayangan.
By : Raja11

Simbul Punokawan

Semar, Gareng, Petruk dan Bagong
          Secara umum, Punakawan melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Para tokoh punakawan juga berfungsi sebagai pamomong (pengasuh) untuk tokoh wayang lainnya. Pada dasarnya setiap manusia umumnya memerlukan pamomong, mengingat lemahnya manusia, hidupnya perlu orang lain (makhluk sosial) yang dapat membantunya mengarahkan atau memberikan saran / pertimbangan. Pamomong dapat diartikan pula sebagai guru / mursyid terhadap salik yang dalam upaya pencerahan jati diri.

By : Raja11

Jumat, 19 November 2010

Drupadi dan Srikandi dalam Dua Versi


 Versi Mahabarata
Kisah drupadi pada Mahabarata diawali dari sayembara yang diadakan oleh ayahnya, prabu Drupada.
Isi sayembara: siapa bisa mengankat busur dan memanahkan anak panah pada cakra yang terus berputar, dia yang berhak mempersunting drupadi. Pada hari sayembara, banyak para ksatria yang tidak mampu menjawab tantang itu, sampai kemudian Karna berhasil melakukannya. Sayang, drupadi enggan bersuamikan seorang anak kusir. Maka majulah seorang brahmana yang sanggup menjawab tantangan itu, dia adalah arjuna. Namun karena Arjuna mengikuti sayembara atas nama Pandawa, akhirnya drupadi menjadi istri bagi kelima pandawa (poliandri). Dari kelima suaminya itu drupadi beroleh lima orang putra: Pratiwinda, Sutasoma, Srutakirti, Satanika, Srutakama.
Pada versi jawa.
Kisah drupadi diawali dari “Sayembara Gandamana”, patih kerajaan Pancala itu buat tantangan siapa yang bisa mengalahkan dia berhak mempersunting putri rajanya. Yang memenangkan sayembara itu adalah Bima (sebenarnya Gandamana unggul, tetapi ketika ia berhasil melumpuhkan Bima, panegak pandawa itu nangis dan menyebut nama ayahnya: Pandu Dewanata, sehingga gandamana trenyuh teringat pada mantan Rajanya itu dan akhirnya justru mewariskan aji bandung bandawasa). Tetapi karena Bima ikut sayembara bukan untuk dirinya tetapi untuk Puntadewa, akhirnya ia menjadi istri bagi Puntadewa saja. Dari Puntadewa ini, drupadi mempunya anak raden Pancawala. Perubahan cerita ini karena Poliandri (seorang wanita bersuamikan lebih dari satu suami) itu dilarang dalam hukum Islam.

SRIKANDI

(Versi Mahabharata)
Dewi Amba sakit hati karena cintanya pada raja Salwa dari Saubala akhirnya harus pupus karena Bisma memenangkan Sayembara untuk memperoleh dirinya. Namun ketika ia akhrinya menyerahkan dirinya pada Bisma, putra Santanu itu pun menolaknya, sebab ia ikut sayembara untuk adiknya lain Ibu: Wichitrawirya. Sakit hati kerena merasa dipermalukan, Dewi Amba ini kemudian bertapa dan berdoa pada para dewa agar bisa membalas sakit hatinya itu. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi, putri prabu Drupada.
Suatu saat, Drupada mengambil untaian bunga (yang diletakkan oleh Dewi Amba saat ia meninggalkan Hastinapura karena sakit hati) dan mengalungkannya pada Srikandi. Ajaib, kelamin putrinya itu berubah jadi laki-laki.
Menurut Wiracarita Mahabarata, srikandi ini tetap sebagai pria (meskipun penampilannya seorang wanita) dan dia punya seorang Istri. (Ini artinya, menurut Mahabarata, Srikandi itu bukan istri Arjauna)
Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang “seorang wanita”, ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma sampai akhirnya senopati tua itu terbunuh.
(Versi Jawa)
Srikandi adalah putri prabu Drupada yang tetap menjadi seorang putri. Dalam lakon “Mbangun Taman Maerokoco”, ia diajari memanah oleh Arjuna dan akhirnya menikah dan beroleh seorang putra. Ini artinya, Srikandi tetap sebagai wanita, beda dengan wiracarita Mahabarata, dimana Srikandi berkelamin laki-laki (walau penampilannya seperti wanita).
Dalam cerita Jawa, Srikandi pernah menjadi seorang satria: Bambang Kandihawa yang menikah berhubungan dengan seorang resi Amintuna (jelmaan Arjuna) dan beroleh keturunan: Nirbita Niwatakawaca (dialah yang pernah memaksa melamar Bathari Supraba tetapi gagal karena bisa dibunuh oleh Begawan Ciptowening, jelmaan Arjuna, alias bapaknya sendiri). Cerita ini rumit sekali
Dalam lakon Seta Gugur (dibawakan dengan sangat apik oleh dalang favorit, Ki Hadi Sugito). Kita mendengar kisah Srikandi yang sebenarnya bisa saja dikalahkan oleh Bisma. Tetapi ketika bayangan Dewi Amba muncul dalam diri Srikandi, Bisma pun takluk dan akhirnya menemui kematian diterjang panah Srikandi.
Akhir hidup Srikandi sama antara versi jawa dan mahabarata yakni dibunuh oleh Aswatama pasca perang Barathayuda, saat mereka sedang merayakan kelahiran anak Abimanyu dari Utari: Parikesit.